PKBM Jadi Benteng Anak Putus Sekolah

MALANG POSCO MEDIA, KOTA BATU – Pendidikan non-formal kian menjadi garda terdepan dalam menekan angka putus sekolah sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Di Kota Batu, peran itu dijalankan secara konsisten oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Taman Krida Dewasa.

Lembaga ini menjadi “rumah kedua” bagi mereka yang tersisih dari jalur pendidikan formal. Kepala PKBM Taman Krida Dewasa, Ermawati, mengungkapkan mayoritas peserta didiknya berasal dari latar belakang rentan, mulai dari persoalan ekonomi hingga konflik keluarga.

“Rata-rata anak putus sekolah itu karena background keluarga, pergaulan yang kurang tepat, tapi yang paling banyak adalah korban broken home,” ujar Ermawati saat ditemui di sela pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) Paket B di SMAN 1 Kota Batu, Minggu (12/4) kemarin.

Kondisi tersebut mendorong pihaknya mengambil langkah progresif dengan menggratiskan biaya pendidikan bagi anak usia 7 hingga 20 tahun. Kebijakan ini terbukti efektif menarik minat belajar, sekaligus memperluas akses pendidikan bagi kelompok rentan.

Tak hanya menyasar anak usia sekolah, PKBM ini juga menjadi alternatif bagi kalangan dewasa. Sejumlah peserta didik bahkan berasal dari kalangan pekerja, termasuk pegawai Pemerintah Kota Batu dan tenaga P3K paruh waktu, serta pegawai dari instansi di lingkungan Pemprov Jawa Timur seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Materia Medica.

Dalam memperkuat jangkauan, PKBM Taman Krida Dewasa juga menjalin kemitraan dengan pondok pesantren salaf di Kota Batu. Menurut Ermawati, pola asrama di pesantren justru membantu menjaga kedisiplinan peserta didik.

“Kalau di pondok pesantren salaf, kehadirannya relatif aman karena mereka berasrama. Tantangan terbesar justru dari masyarakat umum, seperti faktor pekerjaan atau kebiasaan bangun siang,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaan TKA, pihaknya memastikan proses berjalan relatif lancar berkat persiapan matang, termasuk simulasi ujian. Meski demikian, tantangan sosial tetap menjadi kendala utama, terutama soal kedisiplinan waktu.

“Jadwal masuk jam 07.00, tapi ada yang datang jam 09.00. Namun kami tetap terima. Mereka sudah mau sekolah saja itu sudah langkah besar,” tegasnya.

Bahkan, faktor sosial kerap menjadi penghambat serius. Ermawati menyebut ada peserta didik yang gagal mengikuti ujian karena menikah dan ikut pasangan ke luar kota.

Pendekatan inklusif dan humanis yang diterapkan PKBM Taman Krida Dewasa menjadi kunci dalam menjangkau kelompok marginal. Lembaga ini memastikan setiap warga, tanpa memandang usia dan latar belakang, tetap memiliki kesempatan memperoleh pendidikan dan ijazah yang diakui negara. (eri/aim)

Sumber: https://malangposcomedia.id/pkbm-jadi-benteng-anak-putus-sekolah/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *